Minggu, 22 November 2009

Nu Smart Program Smaret College Luar Biasa

PADANG --Luar Biasa! Smart College yang terletak di jalan Proklamasi Terandam memang cocok dengan namanya: Smart. Apa yang membuat lembaga ini luar biasa?

Ternyata lembaga yang dipimpin Yasri Harfi, SE ini mampu membuat terobosan yang selama ini dicari dan amat dibutuhkan banyak kalangan. Nu Smart Program (NSP), sebuah program yang dirancang tim kreatifnya, menjadi solusi bagi dunia kerja saat ini.

"Kami berusaha membuat terobosan yang sangat dibutuhkan banyak pihak", ungkap Ajo Epi, panggilan akrab laki-laki 38 tahun ini. Mantan menejer LP3M ini berhasil meramu Program Lansung Kerja. Setiap orang yang telah tergabung dalam program ini tidak perlu lagi sulit-sulit mencari kerja, apalagi harus memasukan lamaran ke beberapa perusahaan.

"NSP Pogram Lansung Kerja merupakan program yang dibutuhkan dunia kerja. Ini bukan Program Siap Kerja (PSK), karena anda tidak perlu lagi mencari kerja setelah tergabung ke program ini," jelas Ajo pada Mediasi.

Sementara itu beberapa perusahaan sangat menyambut program ini. Seperi ditambahkan Arif Usman dan Sherly, staf Smart College, beberapa perusahaan malah sudah ada yang menerima pinangan lembaga ini dan itu semua sudah disahkan dalam bentuk kerjasama tertulis. "Beberapa perusahaan telah menerima pinangan kami dan sebagian besar dari mereka telah menandatangani surat kesepakatan kerjasama dengan kami," jelas Sherly dan Arif.

Dodi Rullyano, Head Office PT Karya Cipta Mandiri, sebuah perusahaan outsourcing dari Jakarta, menyatakan senang bekerjasama dengan Smart College melalui program NSP. ”Kami merasa puas dan sangat terbantu sekali.NSP Smart College selain meringankan kami dalam perekrutan calon tenaga kerja juga memberikan kami tenaga kerja yang berkualitas. Sudah ada murid NSP yang telah kami ditempatkan pada bagian Marketing dan Customer Service di Esia”, jelas Dodi. NSP telah menyalurkan pesertanya pada bagian Marketing dan CS di salah satu perusahan provider terbesar di Indonesia.

Saat ini NSP Smart College baru menerima peserta tamatan D3 dan S1. Rencananya dalam waktu dekat lembaga ini akan menerima peserta tamatan SLTA. “ Pada tahap awal kami memang menerima tamatan D3 dan S1. Namun, dalam waktu dekat ini kita akan membuka kesempatan bagi adik-adik tamatan SLTA sederajat. Kita yakin pesertanya akan banyak sekali. Sekarang saja sudah banyak adik-adik lulusan SLTA yang memohon agar program NSP dibuka bagi tamatan SLTA. Insyaaallah,kita akan segera mewujudkan keingan mereka, terang Dimas. Nicholas Dimas Laoche merupakan kordinator dari program andalan Smart College ini.
Manajemen Dunia Pendidikan Sumatera Barat
Pasca gempa yang melanda Sumatera Barat pada 30 September lalu membuat masyarakat, terutama dunia pendidikan gamang. Betapa tidak? Gempa tersebut telah meluluhlantakan banyak sarana pendidikan. Gempa juga telah membuat pelajar/mahasiswa untuk menimba ilmu diderah ini. Rasa tidak nyaman membuat mereka tidak betah berlama-lama disini. Akankah gempa akan menghancurkan dunia pendidikan Sumatera Barat.
Kenyataan yang terjadi, sarana dan prasana pendidikan di kota Padang mengalami kerusakan paling parah. Sebanyak 1.606 bangunan mengalami rusak berat, 1.308 rusak sedang dan 903 rusak ringan. Kerusakan paling parah selanjutnya adalah Kab Padang Pariaman 257, Kab Agam 114, Kota Pariaman 41, Kab Pasaman Barat 27, Kab Pesisir Selatan 6, Kab Tanah Datar 5, Kab Solok 4, Kota Solok 3, Kab Padang Panjang 3, Kab Padang Panjang 3 terakhir Kab Mentawai 3.
Ternyata, tidak saja gempa yang menghancurkan sendi-sendi pendidikan di Sumatera Barat. Pemberian bantuanpun belum termenej dengan baik. Kalau hal ini siapa yang berbuat? Adakah oknum yang berbuat? Kalau masih ada oknum yang tega dalam keadaan seperti ini bermain, sungguh keterlaluan. Sebaiknya ada UU atau Perda yang memberikan aturan manajerial distribusi bantuan. Sehingga bantuan yang mengalir tidak mengalami polemik.
Dunia pendidikan di Sumatera Barat dan beberapa kota dan kabupaten (sepertinya) belum memiliki manajemen yang baik dalam dunia pendidikan. Sebuah manajemen yang mampu mengatur system yang matang dan up to date terhadap segala perkembangan, tidak kaku. Manajemen juga mengatur orang-orang yang terlibat didalamnya mengutamakan fungsi ; melayani bukan dilayani. Membuat perangkatnya selalu ingat bahwa mereka adalah pengabdi bukan sebaliknya dan harus mendukung usaha mencerdaskan bangsa tanpa pandang bulu. . Membuat system dan perangkatnya flexible. Tidak seperti beberapa masalah yang telah terjadi sebelum Gempa 30 September melanda. Banyak masalah terjadi yang membutuhkan perhatian dan penanganan lebih serius. Diantaranya, sekolah gratis tapi masih ada pungutan yang dibebankan ke murid, perhatian yang tidak seimbang antara sekolah negeri dan swasta serta perlakuan yang belum layak yang diterima SMK Dhuafa. Seperti masalah di SMK Dhuafa - terletak di daerah Gunung Panggilaun, Padang - yang didirikan oleh Drs. Ibrahim. MM seorang Dosen Fakulltas Teknik UNP. Sekolah yang berdiri12 tahun silam ini mengaku mendapatkan perlakuan tidak adil. Dan perlakuan tersebut juga dialami murid mereka.
Salah seorang murid SMK Dhuafa yang mengalami perlakuan tersebut malah terbukti menunjukkan prestasi pada Lomba Kompetensi Sekolah tingkat kota Padang setahun lalu. Jangankan didukung, anak tersebut malah disarankan tidak usah melanjutkan ketingkat provinsi. Sebegitukah sikap pemerintah terhadap kemajuan dunia pendidikan ? Seharusnya – jika memang terjadi –kejadian ini tidak boleh ada dan jangan sampai terulang. Itu tidak baik.
Kenyataan ini harusnya jadi satu spion bagi pemimpin untuk menyusun dengan baik sistem dan manajemen pendidikan di provinsi ini. Selain itu,pemimpin harus sigap, tangkas, bermata tajam, bertelinga tipis dan cepat tanggap. Pemimpin amanah rakyat adalah pemimpin yang cerdas( bukan merasa cerdas atau sok cerdas), pemimpin yang baik, merakyat,mau mendengar dan tahu bertindak benar pada waktunya. Apakah sebaliknya, para pemimpin akan berlaku cuek ( acuh tak acuh ), pura-pura belum tahu, marah karena diingatkan, tersinggung jika diberitahu,menuntut karena mennganggap bahwa manajemen pendidikan disini sudah baik atau lansung menanaggapi dengan menelusuri dan segera membenahi.
Bagi pemimpin/pemerintah, Media bukanlah lawan bagi mereka. Media adalah sahabat yang baik, yang selalu menemani dalam suka maupun duka. Sahabat yang hanya menginginkan agar dia selalau dijalan yang benar dalam berpikir, berbicara dan bertindak. Media Pendidikan sahabat yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan.
1231 MENGANGGUR PASKA GEMPA
Padang, Mediasi. Tidak kurang sebanyak 1231 karyawan dari 5165 karyawan menganggur dan terpaksa harus dirumahkan sementara waktu paska gempa 30 September 2009 silam. Pasalnya 84 Perusahaan dari 140 Perusahaan hancur akibat gempa.Pemerintah kota Padang melalui Dinas Sosnakertrans telah mengambil langkah- langkah kongkret, dimana karyawan yang telah berstatus menganggur pada perusahan yang hancur terkena bencana gempa, dipekerjakan pada perusahaan lain sejenis dengan perjanjian Perusahaan dimana mereka selama ini bekerja akan menerima kembali karyawannya setelah perusahan tersebut beroperasi kembali. Selain itu di himbau kepada perusahaan bersangkutan tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), dan bila hal itu terjadi, tida, Pemda kota Padang tidak segan- segan memberikan sanksi hukum kepada Perusahaan tersebut dengan mencabut izin operasionalnya sesuai UU.No.13 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan kata Kepala Dinas Sosnakertrans kota Padang diwakili Sekretarisnya Drs.Tamsil Dt.Gadang kepada Koran ini di ruangan kerjanya Selasa (10/11) lalu. Tidak itu saja kata Tamsil, kepada mereka diberikan kesempatan dan peluang untuk berkerja di luar daerah sepeti Batam dan Pakan Baru, bahkan ke luar negeri sebagai TKI setelah mereka diberikan bekal ketrampilan melalui pelatihan kompetensi oleh PJ TKI yang akan mengirim mereka serta diberikan arahan tentang aturan yang berlaku di perusahaan luar negeri, termasuk bagaimana sistim dan pola bekerja di luar negeri, sehingga ditempat mereka bekerja tidak mengalami hambatan ujar Tamsil lagi.(Ahmad Jalinus)
PEMERINTAH BANGUN 225 RUMAH LAYAK HUNI
Padang, Mediasi.- Penanggulangan kemiskinan tidak saja merupakan tanggung jawab pemerintah, tapi juga tanggung jawab swasta dan masyakat. Sebagai bukti kepedulian pemerintah terhadap keluarga miskin, di kota Padang tahun ini telah dibangun sebanyak 225 rumah tak layak huni dengan biaya sebesar Rp.10 juta per unit berasal dari bantuan pemerintah pusat. Hal itu dimaksudkan agar keluarga miskin yang belum memiliki rumah layak huni, dapat menikmati rumah yang memenuhi syarat rumah sehat. Untuk percepatan pembangunan dan kelancaran pelaksanaan pekerjaannya, maka pembangunan nya dilaksanakan dengan sistim manunggal TNI melibatkan TNI, Polisi, relawan dan masyarakat. Peresmian pemakaian rumah layah huni tersebut, akan dilakukan Presiden SBY dipusatkan di Payakumbuh 20 Desember 2009 mendatang sejalan dengan peringatan HKSN ke 64 tingkat nasional kata Kepala Dinas Sosnakertrans di wakili sekretarisnya Drs Tamsil Dt.Gadang kepada Koran ini diruangan kerjanya Selasa (10/11) lalu.
Selain itu untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, Pemda kota Padang tahun ini telah memberikan bantuan dana stimulant kepada 80 Kelompok Usaha Bersama (KUB) di kota Padang masing- masing sebesar Rp.20 juta yang ditransper melalui rekening kelompok bersangkutan di BRI dimana kelompok tersebut berada. Bantuan seperti itu kata Tamsil lagi, sangat membantun anggota kelompok dalam mengembangkan usaha mereka, sekaligus dapat meningkatkan taraf ekonomi rumah tangga mkereka, hal itu terbukti pada tahun 2008 silam, kelompok yang telah mendapatkan bantuan serupa, ternyata mampu meningkatkan ekonomi mereka sampai 60 persen. Kepada kelompok tersebut tidak saja diberikan berupa bantuan dana, akan tetapi termasuk pelatihan ketrampilan mereka.

Peminat Mandarin semakin meningkat

Ratusan ribu orang belajar Bahasa Mandarin
Menurut kantor berita Xinhua, tahun ini sejumlah 844 mahasiswa dari 178 negara belajar di berbagai universitas Cina, ini berarti peningkatan 43 persen dari tahun 2003.Masih menurut kantor berita tersebut, 30 juta orang lainnya belajar bahasa Mandarin di seluruh dunia.
Bulan Juli lalu, pemerintah mensponsori Konprensi Cina Dunia yang diadakan di Beijing dengan tujuan mempromosikan pengajaran bahasa Cina.
Mavis Li, dari sebuah lembaga swasta Beijing Mandarin School, mengatakan sektor tersebut mendapatkan dukungan besar karena masuknya Cina menjadi anggota WTO dan Olimpiade Beijing 2008.
Ini membuat banyak orang tertarik belajar bahasa Mandarin dan perusahaan mengirimkan pegawai mereka guna mempelajari bahasa tersebut.
Siswa Mancanegara
"Kebanyakan pelajar kami berasal dari Eropa dan Amerika Utara, namun dalam tiga atau empat tahun terakhir, semakin banyak berasal dari Asia, Amerika Selatan, dan Afrika," katanya.
"Cina adalah pasar yang besar. Orang asing datang untuk berbisnis, dan mereka perlu belajar Mandarin untuk berkomunikasi. Yang lainnya juga tertarik dengan negeri yang punya keunikan budaya, dan yang juga ingin bertualang dengan mengunjungi Cina." tambah Li.
Sekarang berbagai sekolah bermunculan di ibukota Beijing, dan iklan mencari murid muncul di berbagai majalah berbahasa Inggris.
Wartawan asal Taiwan Yu Senlun baru-baru ini diminta oleh sebuah sekolah bahasa yang bermarkas di Barcelona bagi kemungkinan membuka sebuah cabang di Beijing.
Dia mengatakan pasar di Cina sekarang sulit ditembus karena persaingan yang ketat.
"Menurut Kantor Pengajaran Bahasa Cina, sudah ada 400 universitas di Cina yang menawarkan pelajaran bahasa Mandarin. Kantor itu memperkirakan di Beijing saja, ada sedikitnya 30 universitas dan lebih dari 50 sekolah swasta." katanya lagi.
Dia mengatakan, sekolah yang ada melebihi jumlah mereka yang ingin belajar di Beijing, namun dia memperkirakan banyak yang masih ingin datang ke ibukota Cina tersebut untuk belajar.
Banyak lembaga juga mulai melakukan berbagai eksibisi di luar negeri guna mencari mahasiswa.
Pang Ming, wakil direktur Departemen Program Internasional di Beijing Union University (BUU), mengatakan institusinya memiliki 100 mahasiswa asing bulan September 2000.
Empat tahun kemudian, mereka memiliki 177 dan tahun 2005, ada 274 mahasiswa.
Dari yang sekarang ada, 39 persen berasal dari Indonesia dan 31 persen dari Korea Selatan, dan sisanya datang dari beberapa negara termasuk Jepang, Thailand dan Inggris.
Memperluas kesempatan
Pang Ming mengatakan meluasnya hubungan bisnis Cina ke seluruh dunia menjadi alasan utama bagi semakin meningkatnya mahasiswa asing.
"Semakin banyak perusahaan asing berkiprah di Cina, sehingga penguasaan dua bahasa diperlukan. Mengetahui bahasa Mandarin akan membantu mereka yang belajar mendapatkan pekerjaan bagus. Beberapa mahasiswa belajar Mandarin di negeri mereka sendiri, namun belajar di Beijing memberikan suasana belajar dan sekaligus mengetahui budaya Cina." kata Pang Ming.
Song Juan, warga Beijing berusia 22 tahun ini bekerja paruh waktu sebagai guru bahasa Mandarin, di sela-sela waktunya sebagai mahasiswi komputer.
Dia suka mengajar dan yakin bahwa pasar untuk belajar bahasa Mandarin akan terus meningkat, sehingga dia ingin menjadi guru "tetap" setelah dia selesai tahun depan dan bukannya menggunakan keahlian komputernya untuk mencari kerja.
"Saya kira saya bisa memiliki karir bagus sebagai guru bahasa Mandarin, akan lebih bermanfaat dan berguna," kata Song Juan."Seluruh dunia ingin mengerti Cina. Jadi keinginan belajar bahasa Mandarin belum akan berakhir."
Banyak yang percaya pertumbuhan ekonomi Cina akan terus berlanjut, dan mengatakan bukan saja Mandarin adalah bahasa yang menarik dipelajari, juga bahasa itu akan membuat mereka mendapatkan pekerjaan yang bagus.
Salah seorang mahasiswa Indonesia, Ivan Handoyo, fasih bahasa Inggris karena pernah sekolah di Australia. Namun sekarang mahasiswa berusia 23 tahun itu berada di Beijing belajar bahasa Mandarin.
Dia ingin belajar bahasa tersebut guna di masa depan, bisa membantu bisnis orang tuanya menjual sarang burung walet.
"Saya berharap bisnis ini akan berkembang, dan berhubungan dengan warga Cina dari seluruh dunia," kata Handoyo.
Ribuan warga asing juga mendatangi Cina untuk belajar bahasa Mandarin.

Pembuatan Bangunan Rumah Tahan Gempa

Secara umum Pantai Barat dan pulau Sumatera relatif memiliki magnitude gempa yang kecil, dan menurut sejarah rekaman gempa, pada daerah tersebut pernah terjadi beberapa gempa dengan magnitude besar. Banyak ahli percaya bahwa gempa besar akan menghantam daerah ini lagi. Didasarkan pada kondisi tanah, air tanah, topografi, dan kondisi struktur bangunannya, daerah ini menjadi salah satu daerah yang sangat rawan bencana.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara Penulis dengan masyarakat pasca gempa, banyak fasilitas yang rusak terutama rumah masyarakat. Dilihat dari kondisi rusaknya, umumnya dikarenakan ketidaksesuaian dengan kaidah dan ketentuan teknis bangunan tahan gempa, seperti sambungan antara pondasi dan sloof, dinding dengan tiang, tiang dengan ring balok. Kerusakan yang sama terdapat hampir merata di tiap rumah yang rusak. Pada umumnya kerusakan bangunan disebabkan oleh mutu pekerjaan yang dan mutu material yang rendah.
Banyaknya fasilitas yang rusak karena tidak sesuai dengan kaidah dan ketentuan teknis bangunan tahan gempa, merupakan alasan utama Penulis mengadakan pengabdian ke masyarakat di Desa Sikaladi, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar yang mengalami banyak kerusakan rumah akibat gempa pada 2007. Semoga pengetahuan ini juga dapat diterapkan untuk daerah yang mengalami kerusakan akibat gempa pada 30 September 2009.
Pembahasan
Pondasi yang kuat berada di atas tanah yang stabil dengan kedalaman pondasi dari permukaan tanah minimal 60 cm, lebar bagian bawah pondasi minimal 60 cm, lebar bagian atas minimal 30 cm dan konstruksi pondasi tersebut dibuat solid dan menerus. Dasar pondasi batu kali adalah lapisan pasir yang padat & diletakkan di atas tanah keras. Sloof diangker pada setiap jarak 60-150 cm dengan kedalaman 40 kali diameter besi tulangan, sehingga struktur menjadi kokoh. Di bawah pondasi diberi lapisan pasir dengan ketebalan minimal 5 cm. Sambungan tulangan harus dibuat sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan atau diizinkan pada gambar rencana, atau dalam persyaratan teknis, atau sesuai dengan persetujuan Perencanaan Struktur.
Pada pertemuan komponen-komponen rangka utama (misalnya pertemuan balok dan kolom), sambungan lewatan tulangan yang menerus dan pengangkuran tulangan yang berakhir pada pertemuan itu harus dilindungi dengan pengikat yang baik. Pengikat pada pertemuan tersebut dapat berupa beton eksternal atau sengkang pengikat tertutup internal, spiral atau sengkang.
Dalam pembuatan model rumah tahan gempa, bangunan diskalakan 1: 10 yang mencakup: hubungan pondasi batu kali dengan sloof, detail struktur atas, hubungan kolom dan dinding, dan hubungan kolom dan balok. Hubungan pondasi batu kali dengan sloof memperlihatkan bentuk pondasi dan hubungannya dengan sloof, selain itu juga memperlihatkan dimensi penampang minimum suatu pondasi batu kali untuk rumah tinggal, seperti terlihat pada Gambar 6.


Gambar 6. Hubungan Pondasi dan Sloof

Sebelum pemasangan sloof, besi ditanam terlebih dulu guna memperkokoh antara pondasi dan sloof. Detail struktur atas memperlihatkan bentuk hubungan pondasi – sloof dan kolom, sehingga bangunan yang dibuat itu kokoh dan kaku, seperti terlihat pada Gambar 7.


Gambar 7. Hubungan Pondasi-Sloof dan Kolom

Hubungan kolom dan dinding memperlihatkan bagaimana hubungan antara kolom dengan dinding sehingga akan memperkuat posisi dinding, seperti terlihat pada Gambar 8.


Gambar 8. Hubungangan Kolom Dengan Dinding

Hubungan kolom dan balok memperlihatkan bagaimana hubungan antara kolom dan balok sehingga jika terjadi gempa maka antara kolom dan balok tidak lepas, seperti terlihat pada Gambar 9.


Gambar 9. Hubungan Kolom Dengan Balok

Hasil yang didapat setelah dilakukan pembuatan model ini adalah bentuk permodelan bangunan yang tahan terhadap gempa berdasarkan kaidah dan ketentuan teknis rumah tahan gempa.


Sumber: ZULFIKRI’s Webblog_files

Sebelum permodelan tesebut diserahkan, perlu dilakukan penyuluhan terhadap para tukang dan masyarakat lainnya. Jika Anda butuh penjelasan lebih lanjut bisa menghubungi Penulis ke: 085263195857. ***


Catatan:
Program Penerapan Ipteks di Desa Sikaladi, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar dibiayai dengan Dana DIPA Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional 2009
Penggabungan Potensi Otak
Melalui Aerobik dan Neorobik
Sekitar 450 para guru dan kepala sekolah taman kanak-kanak yang tergabung dalam Ikatan Guru TK (IGTK) Kota Padang mengikuti sosialisasi sistem Penggabungan Potensi Otak melalui Aerobik dan Neorobik, di Gedung Serba Guna PTSP, Rabu (29/10).
Sosialisasi yang diikuti 223 TK se Kota Padang itu terselenggara atas kerjasama TK Semen Padang dengan IGTK Kota Padang dan Himpunan Pendidik Anak Usia Dini (Himpaudi) Kota Jakarta.
“Melalui kegiatan ini, secara khusus diharapkan para guru mampu mengembangkan kreatifitas bermain dan bergerak, guna mengenal dan mendekatkan anak pada Sang Pencipta serta pandai bersyukur melalui asma-Nya,” tutur Ketua Himpaudi Jakarta, Petro Alexi di sela-sela acara.
Sedang tujuan umum, lanjut Alex, sapaan Petro Alexi, para guru mampu menguasai berbagai metoda mengajar seperti bernyanyi dan bercerita untuk mengembangkan potensi multiple intelijen seperti bahasa, logika-matematika, kinestetik, musikal, lisan spesial, inter personal, intra personal dan natural melalui kegiatan bermain dan gerak yang menyenangkan.
Tujuh materi yang diajarkan yakni, Aku Pandai, Aku Senang, Aku Kuat, Ya Allah Ya Alim, Aku Ingin Pandai, Ya Allah Ya Jabbar dan Aku Ingin Kuat yang dipadu antara nyanyi dan gerak, merupakan bagian dari metoda Inteligence, Spritual, Emotional Question (ISEQ).
Kepala TK Semen Padang Hj. Nofliwati Rahman mengungkapkan, sosialisasi tersebut juga bagian upaya trauma healing terhadap anak didik pasca gempa lalu.
Nofliwati membeberkan, awalnya tim relawan dari Himpaudi Jakarta tersebut akan mengadakan sosialisasi, khusus di TK Semen Padang. Namun, setelah pihaknya berkoordinasi dengan IGTK Padang, maka sosialisasi dilakukan secara massal dengan mengundang seluruh TK yang tergabung di IGTK Kota Padang.
“Alhamdulillah pihak PT Semen Padang mau memberikan fasilitas sehingga acara ini dapat terwujud. Peserta sosialisasi adalah utusan masing-masing TK yang terdiri dari kepala sekolah dan satu guru TK bersangkutan. Acara ini bernilai positif untuk pengembangan dan peningkatan proses belajar mengajar,” kata Nofliwati.
Direktur PT Semen Padang, Drs. Endang Irzal, Ak., MBA dalam sambutannya memuji profesi guru TK yang telah sepenuh hati mengabdikan dirinya mendidik anak-anak.
“Pekerjaan ini sangat mulia. Sebab, usia nol hingga enam tahun merupakan periode the golden age seorang manusia, yang akan menentukan perkembangannya di kemudian hari. Dan para guru TK sangat berperan untuk membentuk dasar-dasar watak, sikap dan berbagai kemampuan bawaan seorang anak,” ungkap E. Irzal.
Bahkan E. Irzal menyebut jika guru TK merupakan guru senior. Hal itu sepadan seperti terjadi di Perguruan Tinggi, bahwa yang mengajar mahasiswa pada Semester I dan II adalah dosen senior. Ini bertujuan agar para mahasiswa dapat memahami dasar-dasar suatu ilmu yang akan menjadi spesifikasi mereka pada semester selanjutnya.
Ketua IGTK Padang, Yenita saat sesi tanya jawab mengungkapkan, akibat gempa sebanyak 80 rumah para guru TK yang rusak berat, 190 rusak sedang dan 174 rusak ringan. “Rekonstruksi dan rehabilitasi rumah tersebut jelas membutuhkan biaya tidak sedikit. Karena itu, kami butuh bantuan berbagai pihak untuk meringankan penderitaan yang kami alami. Di samping itu, diharapkan tidak terjadi kenaikan harga semen di pasaran,” harap Yenita.
Menjawab itu, Endang Irzal memastikan stabilitas harga dan stok semen di pasaran. “Harga dan stok semen dijamin aman. Sedangkan untuk bantuan semen, PTSP telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi. Data bantuan yang nantinya dikompilasikan dari tingkatan RT, RW, kelurahan, kecamatan, kabupaten dan kota hinga provinsi, akan menentukan teknis penyaluran bantuan sebanyak 10.000 zak semen. Disamping itu, PT Semen Padang juga memprogramkan harga khusus 500.000 zak semen untuk Sumbar,” ungkap E.Irzal.(fri)


Antara Prestasi dan Bencana Alam
Yayasan Igasar Siap Menerima Siswa Pindahan
Pascagempa penghujung September lalu, sekolah-sekolah di Yayasan Igasar Semen Padang mengalami peningkatan jumlah siswa pindahan cukup signifikan. Pertambahan jumlah siswa tersebut tersebar di tiap tingkatan sekolah, yakni sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan menengah atas.
“Setelah gempa 7,9 scala richter yang mengguncang Sumatera Barat beberapa waktu lalu, memang terjadi lonjakan jumlah siswa yang belajar di sekolah Yayasan Igasar,” tutur Ketua Yayasan Igasar Semen Padang, Ir. Burhani, M.Sc., melalui Kepala Bagian Personalia, Irwan Wijaya pada Warta SP di kantornya, beberapa waktu lalu.
Pertambahan jumlah siswa yang mencapai 26 orang itu, lanjut Irwan, yakni di sekolah dasar sebanyak 22 siswa, di SMP dan SMA yang masing-masing dua siswa. Para siswa pindahan tersebut, sebagian besar berasal dari Kota Padang. Juga pindahan dari Kota Solok, Kabupaten Solok, Pekan Baru, Batam dan dari pulau Borneo (Kalimantan).
“22 siswa pindahan di sekolah dasar tersebut terbagi hampir pada semua kelas, kecuali kelas 6. Begitu pun dengan siswa pindahan di SMP dan SMA yang juga terkecuali untuk kelas 3. Pengecualian untuk kelas akhir pada masing-masing tingkatan sekolah ini, memang kebijakan yayasan terkait sempitnya waktu pembinaan pada proses belajar mengajar menghadapi ujian akhir sekolah dan nasional,” ungkap Irwan.
Namun Irwan tidak dapat memastikan, apakah peningkatan minat para orang tua siswa atau siswa bersangkutan terhadap sekolah-sekolah di Yayasan Igasar terkait peristiwa gempa yang meluluhlantakkan sebagian besar sekolah-sekolah di Kota Padang dan sekitarnya itu.
“Peningkatan siswa pindahan memang terjadi pascagempa. Tapi alasan kepindahan itu sendiri, kita dari pihak yayasan tidak mengetahui pasti,” tutur Irwan diplomatis.
Sebab, sambung Irwan, selain keunggulan eksternal seperti lokasi yang aman dan strategis, kondisi bangunan yang kokoh, serta sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang cukup lengkap, setiap tahun sekolah-sekolah Yayasan Igasar selalu menorehkan prestasi.
Pada tahun pelajaran 2008/2009, secara akedemis, tingkat kelulusan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional dan Ujian Nasional pencapaian terlihat menggembirakan. Untuk SD 1 Semen Padang, SD 2 Semen Padang dan SD Bustanul Ulum Batu Busuk, tingkat kelulusan mencapai 100 persen. Tingkat SMP, kelulusan 99,21 persen. Untuk SMK, 94,44 persen. Sedangkan tingkatan SMA, pada jurusan IPA mencapai 100 persen dan jurusan IPS 99,35 persen.
Untuk nilai rata-rata, SD 1 dan 2 berhasil membukukan angka tertinggi yakni 8,54. Sedangkan SD Bustanul Ulum Batu Busuk mencatat rata-rata 7,15. Untuk SMP, SMA Jur. IPA, SMA Jur. IPS dan SMK Semen Padang, masing-masing 8,18, 7,89, 7,43 dan 6,95.
Sementara untuk SD 1 dan SD 2 Semen Padang, masing-masing bertengger pada peringkat 1 dan 2 dari 24 SD yang ada di Kec. Lubuk Kilangan, Kota Padang. Sedangkan SD BU Batu Busuk pada peringkat 14.
Dari sepuluh nilai tertinggi UN tingkat SMA hampir seluruhnya disabet SMA N I Padang, kecuali satu posisi, diraih SMA Semen Padang atas nama Sri Rahmadani pada posisi 9.
“Lebih membanggakan kami, sebanyak 24 tamatan SMA di sini lulus PMDK di perguruan tinggi negeri favorit pada tahun akademik 2009-2010. Yakni, 7 orang di Institut Pertanian Bogor, 2 di Institut Teknologi Surabaya, 1 di Universitas Indonesia, 8 di Universitas Andalas dan 6 orang di Universitas Negeri Padang,” beber Irwan Wijaya.
Untuk non akademis, sekolah-sekolah Yayasan Igasar mampu menoreh prestasi lokal dan nasional. Yakni Peringkat I Sumatera Barat lomba matematika PASIAD tingkat SD tahun 2009. Peringkat nasional dari 100 siswa SD yang dipanggil melanjutkan study di Jakarta. Juara I bulu tangkis dan Juara I silat pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat SLTA di Jakarta, Juara I putra putri lomba silat perisai diri tingkat nasional SLTA di Palembang.
“Ke depan, kita siap menerima siswa tambahan pada tahun ajaran yang sudah berjalan ini. Yayasan akan menyediakan lokal, mobiler PBM dan kesiapan para guru untuk menerima mereka,” tutup Irwan.(fri)


Yayasan Igasar Semen Padang - STT PLN
Kerjasama Melalui Penelusuran Potensi Akademik Kemitraan
Upaya pihak manajemen Yayasan Igasar Semen Padang agar tetap eksis dan berbenah diri demi peningkatan mutu pendidikan pada sekolah-sekolah di bawah naungannya, terus menampakkan hasil nyata. Hal tersebut terlihat dari dijalinnya kerjasama antara Yayasan Igasar dengan Sekolah Tinggi Teknik PLN, Jakarta dalam penerimaan mahasiswa baru melalui jalur penelusuran potensi akademik kemitraan.
“Saat ini Yayasan Igasar dipercaya sebagai satu-satunya pintu masuk ke STT PLN untuk Sumatera bagian barat. Melalui Yayasan Igasar, para siswa yang telah lulus SMA atau SMK di Sumbar, Pekan Baru, Sumatera Utara, Aceh, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Jambi dapat masuk ke STT PLN tanpa di tes ulang. Kerjasama Yayasan Igasar dengan STT PLN merupakan bagian dari program good corporate citizenship,” sebut Ketua Yayasan Igasar Semen Padang, Ir. Burhani, M.Sc., melalui Kepala Bagian Personalia, Irwan Wijaya pada Warta SP di kantornya, beberapa waktu lalu.
STT PLN sendiri, lanjut Irwan, merupakan sekolah tinggi di bawah naungan PT PLN. Setiap tahun, sebanyak 10 siswa terbaik dari STT PLN bisa menjadi karyawan PT PLN tanpa tes. Sedangkan bagi tamatan lainnya, pihak STT PLN akan menyalurkan di anak perusahaan PT PLN meski dengan status outsourching. “Tidak ada istilah mengganggur bagi tamatan STT PLN,” ungkap Irwan.
Untuk dapat masuk STT PLN tidak lah mudah. Para siswa yang lulus secara akademik (prestasi khusus untuk mata pelajaran matematika, fisika dan bahasa inggris), juga harus menjalani beberapa seleksi penyaringan lagi dengan standar di atas rata-rata. Namun melalui rekomendasi Yayasan Igasar, para siswa bersangkutan tidak perlu menjalani berbagai tes penyaringan tersebut. “Pihak STT PLN percaya dengan rekomendasi yang kita berikan,” kata Irwan.
Tahun ajaran 2009/2010, Yayasan Igasar telah mengirim sebanyak 41 siswa. Sembilan diantaranya berasal dari SMU/SMK Yayasan Igasar. Dua dari Sumatera Utara dan 30 lainnya dari daerah-daerah di Sumatera Barat seperti Kota Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, Batusangkar, Solok, Pasaman, dan Padangpariaman. “Besarnya animo siswa yang berminat ke STT PLN, Yayasan Igasar berencana membangun wisma mahasiswa. Disamping bertujuan lebih mengkoordinir para mahasiswa, juga terkait pemasukan pada kas yayasan. Saat ini, rencana tersebut sedang dijajaki. Foto copy sertifikat lokasi pembangunan sudah dikantongi. Jika tidak ada rintangan, tahun 2010 pembangunan sudah bisa dilakukan,” kata Irwan.

Satu Anak Satu Laptop

One Laptop Per Child (OLPC)
“Ini adalah proyek pendidikan, bukan proyek laptop.”

Misi
Hampir semua dari dua-milyar anak-anak di negara yang sedang berkembang pendidikannya adalah kurang, atau tidak menerima pendidikan sama sekali. Satu antara tiga tidak lulus kelas lima SD.

Konsekwensi individu dan sosial oleh krisis global ini adalah sangat signifikan (profound). Anak-anak terikat di dalam kemiskinan dan isolasi — seperti orang tuanya — dan tidak pernah tahu pengaruh kehidupan mereka yang dapat menjadi dari "the light of learning" (sinar pendidikan). Selama ini, pemerintah-pemerintah mereka berjuang untuk berkompetisi di dunia global dan ekonomi informasi global yang cepat merubah, yang dibeban oleh "urban underclass" (masyarakat kota) yang terus meningkat dan tidak dapat mandiri, maupun berkontribusi, karena mereka tidak mempunyai alat-alat untuk melakukan itu.

Ini sudah waktu untuk memikir ulang rumusnya.
Dengan sumber-sumber yang negara perkembang dapat mengalokasikan ke pendidikan kadang-kadang ada dibawah $20/tahun/siswa-siswi, dibanding dengan kira-kira $7500/siswa-siswi/tahun di A.S. — walapun alokasi ke pendidikan tradisional dilipad dua atau empat kali, dan dibantu oleh dana dari luar dan sumber swasta, masih tidak akan berhasil mengatasi masalahnya. Apa lagi, dari pengalaman bahwa kelihatannya "incremental increase" peningkatan gradual hal-hal pendidikan yang biasa, bangun sekolah, angkat guru, beli buku dan peralatan yang memang baik, ini adalah response yang kurang terhadap masalah membawa kesempatan-kesempatan pelajaran yang luas ke anak-anak yang bermilyadan di dunia perkembang.

Kalau berdiri dan tidak maju ini adalah sama dengan mundur.
Anak-anak bangsa adalah sumber alam yang paling terhargai. Kami percaya bahwa negara-negara yang sedang berkembang harus "leverage" menggunakan sumber ini oleh kemampuan untuk "tapping into" menggunakan kapasitas alami anak-anak untuk belajar, membagi, dan berkreatif secara mandiri. Jawaban kami untuk tantangan ini adalah XO laptop, komputer yang dirancang untuk “belajar belajar”.

XO mengintegrasikan "theories of constructionism" yang pertama di bangunkan oleh MIT Media Lab Professor Seymour Papert tahun 1960an, dan later dilanjutkan oleh Alan Kay, dilengkapi dengan prinsip-prinsip terinci oleh Nicholas Negroponte di bukunya, "Being Digital".

"Sudah dites di lapangan secara luas dan divalidasikan di antara masyarakat-masyarakat yang termasuk yang paling miskin dan terisolasi di dunia, "constructionism" menekan bahwa yang Papert sebut “belajar belajar” adalah pengalaman pendidikan dasar. Sebuah komputer dapat enabel secara unik "belajar belajar" karena memberi kesempatan ke anak-anak untuk “berpikir mengenai pikiran”, secara yang tidak mungkin dengan cara lain. Mereka menggunakan komputer XO sebagai jendela ke dunia, sambil sebagai alat yang sangat dapat diprogram untuk membuka dunia, anak-anak di negara yang sedang berkembang akan membuka pengetahuan yang luas dan kreativitas mereka sendiri dan potensi untuk "problem-solving".

OLPC bukan, di harti, program teknologi, dan XO juga tidak sebagai produk di dalam arti produk secara konvensional. OLPC adalah organisasi "non-profit" yang menyediakan "means to an end" solusi yang dapat melihat anak-anak di daerah yang sangat terisolasi di dunia diberikan kesempatan untuk menggunakan dan meningkatkan potensi mereka sendiri, dan mengakses dunia idea-idea dari seluruh dunia, dan berkontribusi untuk membuat dunia yang lebih produktif dan sehat mental.
Di Atas: Pilihan bagian-bagian dari www.laptop.org

Di Bawah: Pilihan bagian-bagian dari www.engadget.com

Ubuntu dipasang di OLPC XO
Posted Jan 14th 2008 12:48PM by Donald Melanson
Untuk mereka yang mencari sesuatu yang kurang nostalgik dari Amiga OS untuk memasang di OLPC XO mereka mungkin ingin membaca "OLPC News website", yang sekarang mempunyai dua tutorial berlangkah-langkah untuk memasang Ubuntu di OLPC XO. Seperti anda barangkali terbak, dua-duanya pilihan tidak begitu mudah di instal, tetapi seharusnya cukup mudah untuk seorang yang punya sedikit pengalaman dengan Linux. Anda juga akan perlu lebih dari laptopnya dan CD Ubuntu untuk memasang Ubuntu -- yang diperlui adalah, USB drive atau SD card dengan paling sedikit 600MB memori dan komputer lain yang pakai Linux -- tetapi kami merasa keperluan ini tidak akan sebagai masalah untuk orang yang ingin memindah ke OS yang "kurang anak-friendly".
[Gambar oleh moocapiean]
OLPC, Microsoft bekerjasama untuk dual-boot Windows / Linux system
Posted Jan 9th 2008 12:21PM by Donald Melanson

We already knew Microsoft was at least toying around with putting Windows on the OLPC XO, but it looks like things have just gotten quite a bit more serious, with the OLPC folks now saying that they're working "very closely" with Microsoft to develop a dual-boot Windows / Linux system for the laptop. What's more, Nick Neg himself reportedly said that the version of Windows that's now up and running on the XO is "very fast" and "very, very successful." There's no word just yet as to when we might actually see such a system be released, however, but OLPC is apparently now talking with Microsoft and "possibly" the Bill & Melinda Gates Foundation about putting the XO to use in some of the education programs Microsoft runs in developing countries, a possibility that Negroponte says is "really cooking at the moment."

Sekolah-sekolah di Birmingham, Alabama akan menerima 15.000 OLPC XOs
Posted Dec 5th 2007 7:29AM by Darren Murph

If you (or your kiddo) just happens to be a first through eighth grader in Birmingham, Alabama, you (or your offspring) will soon be playing with an XO during regularly scheduled class time. Mayor Larry Langford has recently announced that a $3 million deal was signed in order to bring in one laptop per child for the aforementioned grades, or 15,000 XOs in total. Apparently, the schools will become the first in the nation to receive heaps of the low-cost lappies, which were sold to the district at $200 a pop. As for logistics, students can expect to receive their machine on April 15, 2008, and while pupils will be allowed to take 'em home, the school system can and will disable any that inexplicably "disappear."

[Gambar oleh OLPCNews]

OLPC XO dan iRobot Create dibersamakan untuk hack telepresence
Posted Nov 14th 2007 2:53PM by Donald Melanson

While the project is still classified as "ongoing," Damon Kohler nonetheless looks to have made some considerable progress in his OLPC XO / iRobot Create combo, which together forms a makeshift telepresence robot. Among other things, if you decide to build your own, you'll apparently be able to control the robot via a web interface, and make use of the OLPC's webcam and microphone to monitor its surroundings. Some of the more recent additions include some text-to-speech capabilities to totally freak out your pets, and a high-tech night vision system (pictured above). If that's enough to tempt you, hit up the links below for the complete details on how to put together your own.

[Lewat Gadget Lab]

OLPC Memberi Satu, Menerima Satu program diperpanjang -- rata-rata $2M sales/hari
Posted Nov 22nd 2007 7:47AM by Thomas Ricker

Negroponte's OLPC Buy One, Give One program has been extended to 31 December, 2007 -- well beyond the initial two-weeks originally announced. The deal buys both yourself (or rather, your kid supposedly) and a tot from a developing nation new XOs for just $399. Already, the non-profit claims to be pulling in about $2 Million worth of "donations" each day. They've also opened up bulk buying to schools in quantities of 100-999 ($299 each), 1000-9999 ($249 each), or 10,000 and more ($199). Oh, and the program is now officially renamed "Give One, Get One" (GoGo) -- we presume BoGo'ing the kids sounded too icky.